Tampilkan postingan dengan label Motivasi Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi Indonesia. Tampilkan semua postingan

06/11/17

Family Guide

"Kisah tentang cinta kasih ini membuat semua terharu dan terus meneteskan air mata" Di suatu siang hari terlihat seorang nenek berulang kali menekan tombol sebuah rice cooker, tetapi rice cooker itu tetap tidak mau menyala. Lalu nenek ini berjalan tergopoh-gopoh dari dapur ke kamarnya. Di dalam kamar nenek langsung merapikan rambutnya yang sudah memutih dan mengganti baju. Setelah semua kancing bajunya terkancing, si nenek kembali membukanya lagi. Ternyata kancing bajunya tidak terkancing sesuai urutan, sehingga terkadang sisi baju yang sebelah kiri menjadi lebih tinggi dari yang kanan. Atau kancing yang sebelah kanan melampaui 2 urutan dari yang sebelah kiri. Nenek bahkan harus mengulanginya beberapa kali sampai berkeringat, baru akhirnya semua bisa terkancing rapi sesuai urutannya. Setelah itu nenek berjalan keluar dari kamar. Saat nenek melintasi ruang tamu, cucu perempuannya yang berumur 16 tahun sedang menonton TV. Terheran melihat neneknya berpakaian rapi, lalu bertanya, “Nenek mau kemana, bukannya tadi nenek sedang masak didapur?” Nenek kemudian menjelaskan kalau ia tadinya memang mau memasak, tapi entah kenapa rice cookernya tidak mau menyala, dan sekarang nenek mau keluar sebentar membeli makanan. Dengan wajah cemberut, cucunya meminta agar nenek cepat pulang karena ia sudah mulai lapar. “Iya, nenek akan cepat pulang. Kamu tunggu nenek sebentar yah...” Kata neneknya dengan tersenyum, supaya wajah cucunya tidak merengut lagi. Nenek pun berjalan keluar rumah, menunggu bus yang lewat, lalu naik bus ke pusat penjualan makanan. Beberapa saat setelah nenek keluar rumah, cucunya berjalan ke dapur mencari cemilan untuk sekedar mengganjal perut. Tak sengaja dia melihat steker rice cooker yang belum dicolok. Cucunya pun tersenyum geli melihat sikap pelupa neneknya seperti orang yang sudah pikun saja. Sesampai di pusat penjualan makanan, nenek membeli nasi ayam kesukaan cucunya. Setelah selesai membayar dan hendak pulang, langkah nenek tiba-tiba terhenti persis di pintu keluar. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, bola matanya membesar, raut mukanya berubah tampak kebingungan. Semua bangunan dan jalanan yang ada di depannya terlihat berbeda dan asing. Nenek terdiam membisu sejenak.

23/06/16

Lelaki seperti apa, menghasilkan istri seperti apa.

Seorang teman merasa istrinya semakin lama semakin egois dan kasar. Karena itu, mereka bertengkar setiap hari.

Saking seringnya bertengkar, lelaki ini memiliki selingkuhan, seorang gadis yang lembut.
Akhirnya, mereka bercerai dan sang suami menikah lagi dengan selingkuhannya. Sang mantan istripun tak lama kemudian menikah lagi.
Mereka masih belum dikaruniai anak. pernikahan baru keduanya masing masing berjalan dengan sangat lancar.
Tetapi setelah menikah, istri baru dari lelaki ini semakin lamapun kelembutannya semakin pudar.
Rumah tangga mereka berakhir sama seperti yg dulu, sedikit sedikit bertengkar.

Istri barunya bahkan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah, teman tersebut terpaksa membersihkan rumah sendiri.
Teman tersebut merasa nasib dia tidak baik, mengapa ia selalu memilih istri yg kurang baik, setiap hari ia mengeluh.
Sampai suatu hari, di suatu acara makan malam ia secara kebetulan bertemu dengan suami baru mantan istrinya.

Pada awalnya kedua lelaki ini tidak berbicara apa apa, tetapi setelah saling menyapa merekapun minum bersama.

Akhirnya teman tersebut tak bisa menahan diri lagi dan bertanya bagaimana keadaan rumah tangga mereka. Suami baru mantan istrinya ini tidak tampan, tetapi sangat teliti dalam berbicara.
Ia berkata, “Istri saya adalah wanita yg sangat hebat, sangat perhatian dan lembut, ia mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Juga sangat menyayangi saya, ia selalu bersikap baik ke orangtua, saudara, dan teman teman saya. Saatnya jujur dia akan jujur, saatnya butuh perhatian, dia akan memberi perhatian penuh. Wanita seperti ini, sudah sedikit sekali.”
Teman saya setelah mendengarnya merasa bingung, dan berpikir apa dia memang sebaik itu? Mengapa dulu dia sama sekali tidak menyadarinya? Pasti ini semua cuma bualan suami baru istrinya ini untuk membuat saya bingung.

Tak lama kemudian, kebetulan sekali, teman saya pergi berbelanja ke supermarket dan melihat mantan istri dan suami barunya sedang berbelanja.
Ia bersembunyi di samping dan memperhatikan, akhirnya ia menyadari pasangan itu benar benar bahagia.
Kebahagian itu bisa ia lihat dari senyuman mantan istrinya yg selalu bermekaran. Juga bisa dilihat dari pelukan lembut yg diberikan oleh lelaki di sampingnya itu.

03/05/16

Cerdik Seperti Ular

Laksamana Heihachiro Togo dengan STRATEGI BRILIANNYA berhasil MERUSAKKAN armada Angkatan Laut Rusia pada PERTEMPURAN di laut Jepang tahun 1905.

Kemudian ia MENGUNJUNGI Amerika Serikat.

Pada jamuan makan kenegaraan untuk MENGHORMATI Laksamana Togo, William Jennings diminta Bryan untuk MEMIMPIN ACARA BERSULANG yg mana MINUMAN yg dihidangkan adalah SAMPANYE.

Nah William TERKENAL karena TIDAK MAU MINUMAN BERALKOHOL.

Tetapi ia juga TIDAK BISA MENGABAIKAN protokol.

Dengan cerdik ia MENUANGKAN AIR PUTIH ke gelasnya, sementara hadirin memegang GELAS berisi SAMPANYE dan berkata, "Laksamana Togo telah MEMENANGKAN PERTEMPURAN di AIR, maka saya juga MENGGUNAKAN AIR untuk BERSULANG dengannya.
Jika beliau MEMENANGKAN PERTEMPURAN di ATAS SAMPANYE, maka saya akan BERSULANG dengan SAMPANYE.
Mari kita MINUM untuk MENGHORMATI TAMU TERHORMAT kita, Laksamana Heihachiro Togo!"

Hadirin TERSENYUM dan MINUM dengan SENANG.

TINDAKANNYA TIDAK MENYINGGUNG PERASAAN Laksamana maupun petinggi Negara.

Saat hendak MENGAMBIL KEPUTUSAN, kita kerap DIHADAPKAN BUAH SIMALAKAMA.

01/05/16

Tangan Kosong

Pada saat akan meninggal, dalam keadaan kritis, Raja terkenal dari Macedonia, yaitu Alexander the Great atau Iskandar Agung... berkata kepada para dokter yang merawatnya seperti ini :

"Ambillah 1/2 dari kekayaanku, jika kamu dapat mengantarkan aku untuk menemui ibuku sebentar saja"

Dokter menjawab :
"Jangankan separuh, bahkan seluruh kekayaan Baginda diberikan kepada hamba semuanya, hamba pun tidak akan mampu menambah 1 tarikan nafas"

Mendengar jawaban tersebut, air mata pun berlinang dipipi sang Raja, dia berkata :
"Seandainya saya tahu begitu berharganya 1 tarikan nafas, maka saya tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu hanya untuk mengejar kekuasaan"

Kemudian sang Raja pun berpesan, supaya nanti sewaktu diarak dalam peti mati menuju peristirahatannya yang terakhir, ia minta agar kedua tangannya dikeluarkan, supaya setiap rakyatnya dapat melihat bahwa Alexander Agung yang hebat dan mampu menguasai wilayah terbesar

09/04/16

Matahari dan 50 ekor binatang.

Suatu jaman yang sudah sangat lalu, ada seorang bangsawan yang kaya raya di China, ketika akan meninggal memanggil kedua anak nya, dan memberi pesan: “Anak2 ku, seluruh hartaku akan kubagi dua dan kuberikan kepada kalian. “ Dan kedua anaknya yang sangat berbakti mendengarkan dengan seksama.

“ Ada dua syarat yang harus kalian penuhi. “ Sang ayah menyambung dengan nafas yang terengah engah. “ Pertama, pada setiap hari kerja, kalian tidak boleh terkena sinar matahari.” Dan kedua, setiap hari, kalian harus mamakan lima puluh ekor binatang. “

Kedua anaknya mengangguk angguk, ingin bertanya, tetapi tidak berani juga, apalagi sang ayah sudah dalam keadaan sangat kritis. Sang ayah pun meninggal setelah memberi petuah tersebut.

Sang kakak pindah ke utara, dan sang adik pindah ke selatan, dan mereka tidak pernah betemu, sampai pada suatu saat empat tahun kemudian ketika bersama sama menyambangi kuburan sang ayah.

08/04/16

Berbagi Cahaya

Seorang sahabat dokter di Barat memberi judul bukunya dengan judul “the extrodinary healing power of the ordinary things” (daya sembuh luar biasa dari hal-hal yang biasa). Intinya, banyak hal-hal kecil yang kelihatannya sepele, kecil, sederhana ternyata memiliki efek kesembuhan yang luar biasa.

Ia bisa berupa doa, puja, nyanyian, senyuman, berjalan di alam terbuka, bernyanyi bersama anak-anak, bergandengan tangan bersama orang tua, menikmati matahari terbit, tersenyum penuh rasa terimakasih pada matahari tenggelam, merawat taman, mencakupkan tangan kepada bunga-bunga yang sedang mekar, merasakan kegembiraan lumba-lumba yang sedang berlompatan atau kelinci yang senang berlari-lari, menyayangi binatang serta masih banyak lagi yang lain.

Apa saja yang dilakukan dengan penuh senyuman, penuh kasih sayang, penuh rasa syukur yang mendalam, ia memberikan efek kesembuhan yang sangat mendalam. Runtutan logikanya sederhana. Setiap manusia yang sering berbuat baik pada siapa saja, di dalam dirinya akan tumbuh perasaan bahwa hidupnya bermakna serta berguna.

Perasaan berguna dan bermakna ini membuat seseorang bangun pagi lebih bersemangat, membuat seseorang menjalani keseharian dengan lebih banyak tenaga, serta berangkat tidur di malam hari bersama rasa syukur yang mendalam. Secara totalitas, semua ini meningkatkan daya tahan tubuh (immune system), yang membuat tubuh bisa menyembuhkan dirinya.

Lebih-lebih di zaman di mana hadir kegelapan pekat di sana-sini. Dari rumah sakit jiwa yang penuh, angka perceraian yang meningkat, sampai dengan jumlah bunuh diri yang meninggi. Dunia seperti memanggil-manggil agar sebanyak mungkin manusia berbagi cahaya.

Dengan kata lain, melakukan hal-hal kecil sekaligus sepele sebagaimana dikemukakan di atas, tidak saja menyembuhkan ke dalam, tapi juga berbagi cahaya ke luar. Tidak sembarang cahaya, melainkan cahaya-cahaya kelembutan dan kesejukan yang sangat diperlukan oleh bumi yang memanas di sana-sini.

07/04/16

Melayani Sebagai Pelayan atau Sebagai Bos?

Bacaan: Markus 10:35-45 dan Fil 2:1-8

Dalam surat undangan kadang dibawahnya ada catatan "maaf bila penulisan nama dan gelar ada kesalahan". 
Ketika saya diundang kotbah oleh satu gereja, pengundang bertanya "apa gelar bapak?" Saya jawab, "Pendeta". "Maksud saya apa STh, MDiv, MTh atau Dr?" 
"Tidak usah dicantumkan gelar akademisnya" saya jelaskan, sebab saya berkotbah sebagai pendeta bukan sebagai STh atau MTh.”
Salah seorang Majelis di gereja yang lain pernah mengatakan ada pendeta yg tidak senang sebab gelar STh nya tidak dicantumkan dalam buletin gereja. Alasannya, dia dapatkan gelar itu dengan pengorbanan, susah payah.

Pertengkaran diantara murid Yesus tentang siapa yg terbesar diantara mereka (Mark 9:33-37) dilanjutkan oleh permintaan Yakobus dan Yohanes (Mark 10: 35-45). Kita tahu dan hafal dengan cerita ini. Kita mengerti cerita ini. Kita sadar arti pelayanan, tetapi sulit untuk mengikuti pola pelayanan yang Yesus contohkan.

Banyak orang mau melayani, tetapi sedikit yang mau menjadi pelayan. Banyak orang mau melayani sebagai "bos". Itu terungkap dalam "cita2"nya atau ambisinya untuk meraih "jabatan terhormat" dalam gereja; Ephorus, Bishop, Ketua Sinode, Ketua Majelis, dst. 

Padahal dengan gamblang Yesus mengajar untuk "menjadi pelayan" (Mark 10:43).
Dia memberi contoh dengan membasuh kaki murid2 (Yoh 13:1-20). Bahkan dengan pengorbanan di kayu salib. Dalam melayani kita harus mau mengambil "karakter Yesus" yang dijelaskan oleh Rasul Paulus dalam Fil 2:1-8. Dia, Raja atas segala Raja, Allah yang Maha kuasa, nama dan gelar-Nya mengatasi langit, mengosongkan diri menjadi manusia, menjadi hamba yg taat bahkan mati di salib. Bukan mati "enak" tapi mati tragis disamakan dengan penjahat kelas kakap!
Mengapa kita yang hanya punya gelar M.Div atau Dr saja sudah sombong?
Mengapa kita malah bertentangan dengan paradigma atau pola pelayanan Yesus?
Mengapa tidak senang bila gelar tidak disebut dalam kotbah/buletin?
Kita berkotbah bukan sebagai akademisi, tetapi sebagai Hamba Tuhan, sebagai Pendeta. Kalau berceramah mungkin boleh kita cantumkan. 
Tapi wibawa ceramah bukan dari gelar melainkan dari isi ceramah.
Wibawa kotbah bukan dari gelar, tapi kuasa Roh Kudus.

Wibawa dan pengaruh pelayanan bukan dari jabatan melainkan "contoh hidup dan kehidupan" kita.

05/04/16

Sikap Positif

Disebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, diakhir tahun 1940-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya yang kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan segera mengisi air dingin kedalam gelas.

Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan : *“Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur”*. Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tsb.

Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan SD. Kalaupun ada pendidikan yg dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya² kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untukku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur? Apakah kalau aku menjadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa menjadi insinyur seperti mereka?

Pertanyaan ini selalu ter-ngiang² dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan *“SIKAP POSITIF”*. 

Muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.

Tidak jarang olok² dari temanpun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA.

Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah menaklukkan ”rasa sakit”nya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja? Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaanpun karirnya menyusul yang lain. Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya.

04/04/16

Kebenaran

Buat Renungan semua sahabat dan Keluarga  :

Ada seorang dermawan yang dari atas gedung menebar uang pecahan: 
Rp. 5.000,- 
Rp. 10.000,- 
Rp. 20.000,- 
Rp. 50.000,- 
Rp. 100.000,-

Di bawah gedung, berkerumun banyak orang yang sibuk. Mereka saling berebut memunguti uang yang berserakan *"TANPA ADA YANG PEDULI" sumber uang itu dari SIAPA.*

Suatu saat, Sang Dermawan naik lagi ke atas gedung tersebut dan kali ini beralih *menebar kerikil-kerikil kecil ke dalam kerumunan orang yang ada di bawah.* Sontak terjadi keramaian. Ada yang terkena di kepala, bahu, tangan, punggung dan anggota tubuh lainnya. Mereka panik dan marah, menengadah ke atas berusaha *"MENCARI TAHU"* dari mana sumber dari kerikil-kerikil tersebut dijatuhkan?

Itulah sikap dari kebanyakan manusia, *saat BERKAH (hal yang menguntungkan) datang, semua sibuk tanpa peduli siapa yang memberi dan sedikit sekali yang mampu berterima kasih dan mau mengucap syukur atas keberkahan tersebut.*

Namun saat masalah datang, maka semua akan spontan mencari sumber masalah dan biang keroknya. Mereka akan serta-merta marah dan menyalahkan orang lain tanpa mau cari solusi lagi. *"Apakah kita hanya mau menerima yang baik saja, tetapi tidak mau menerima yang buruk ?"*

Tanpa mau tahu bahwa hidup ini sebenarnya sudah satu paket, baik dan buruk, senang dan susah, semuanya satu kesatuan yang tak mungkin terpisahkan. 

Bila suatu ketika kita "kena giliran" menjalani hal-hal buruk dan susah, maka jalanilah dengan tabah dan tetap bersyukur, karena hanya itu kuncinya.

*Mau belajar SABAR?*
Nanti kita akan ketemu dengan orang-orang yang keras kepala kepada kita.

*Mau belajar MENGAMPUNI?*
Nanti kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang menyakiti kita.

*Mau belajar MEMBERI?*
Sebentar lagi kita akan dihadapkan degnan orang-orang yang berkekurangan.

*Mau belajar RENDAH HATI?*
Tunggu saja, nanti akan ada orang-orang yang merendahkan diri kita.

Kabar buruknya, *"HIDUP INI TAK AKAN ADA YANG SEMPURNA !"*

Kabar baiknya, *"KITA TAK PERLU HIDUP YANG SEMPURNA UNTUK BISA MENIKMATINYA !!!”*

Apapun yang sedang kita hadapi, itulah PROSES BELAJAR MENJADI LEBIH BIJAKSANA & DEWASA.
JANGAN MARAH & MENGGERUTU, tapi belajarlah dan responlah dengan benar.

*HIDUP ADALAH PROSES PEMBELAJARAN dan KEDEWASAAN !!!*

02/04/16

Kopi Di Dinding

Sepasang wisatawan asyik menikmati kopi di sebuah kafe terkenal di Venesia, Italia. Tak lama kemudian, datanglah seorang pria paruh baya, duduk di salah satu meja kosong. Ia memanggil pramusaji dan memesan,"Kopi dua cangkir. Yang satu untuk di dinding".

Wisatawan merasa heran mendengar kalimat tersebut. Apalagi sang pria kemudian hanya disuguhi satu cangkir kopi, namun ia membayar untuk dua cangkir.

Segera setelah pria tersebut pergi, si pramusaji menempelkan selembar kertas kecil bertuliskan "Segelas Kopi" di dinding kafe.

Suasana kafe kembali hening. Tak lama kemudian masuklah dua orang pria. Kedua pria tersebut pesan 3 cangkir kopi. Dua cangkir di meja, satu lagi untuk di dinding. Mereka membayar tiga cangkir kopi sebelum pergi.

Lagi-lagi setelah itu pramusaji melakukan hal yang sama, menempelkan kertas bertulis "Segelas Kopi" di dinding.

Pemandangan aneh di kafe sore itu membuat wisatawan heran. Mereka meninggalkan kafe dengan menyimpan pertanyaan atas kejadian ganjil yang disaksikannya, namun tidak sempat mengajukan pertanyaan, apa maksud kopi di dinding.

Minggu berikutnya, mereka mampir kembali di kafe yang sama. Mereka melihat, seseorang lelaki tua masuk ke dalam kafe. Pakaiannya kumal dan kotor. Setelah duduk ia melihat ke dinding dan berkata kepada pelayan, "Satu cangkir kopi dari dinding".

Pramusaji segera menyuguhkan segelas kopi. Setelah menghabiskan kopinya, lelaki lusuh tadi lantas pergi tanpa membayar. Tampak si pramusaji menarik satu lembar kertas dari dinding tersebut lalu membuangnya ke tempat sampah.

Pertanyaan wisatawan itu terjawab sudah. Begini rupanya cara penduduk kota ini menolong sesamanya yang kurang beruntung dengan tetap menaruh respek kepada orang yang ditolongnya. Kaum papa bisa menikmati secangkir kopi tanpa perlu merendahkan harga diri untuk mengemis secangkir kopi. Bahkan mereka pun tidak perlu tahu siapa yang "mentraktirnya". Suatu tatanan hidup bermasyarakat yang amat menyentuh, dan mengharukan.

18/02/16

Saudara vs Persaudaraan

Jika ada yang bertanya, adakah kaitan antara saudara dan kebahagiaan, jawabannya mungkin akan mengagetkan:  tidak ada kaitannya.

Saudara tidak akan membuat kita bahagia. Yang membuat kita bahagia adalah persaudaraan.
Saudara adalah orang-orang yang terhubung dengan kita karena pertalian darah, berdimensi fisik.

Sementara persaudaraan adalah orang-orang yang terhubung dengan kita karena pertalian hati, berdimensi spiritual.

Jika menilik sejarah, banyak kejahatan yang dilakukan oleh saudara kepada saudaranya sendiri. Kisah pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia, antara Kain dan Habel, dilakukan oleh saudara atas saudaranya sendiri. 

Begitu pula dalam kisah konspirasi saudara-saudara Yusuf untuk melenyapkannya.

Jika dalam kasus Kain dan Habel berlaku kejahatan oleh saudara one-on-one, dalam kisah Yusuf yang terjadi adalah persekongkolan jahat oleh sesama saudara. 

Kisah-kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa saudara yang bertali secara darah (fisik) bisa menjadi musuh saat tidak ada pertalian hati (spiritual).

Ada 4 type manusia dalam konteks saudara dan persaudaraan:

1. Saudara yang menunjukkan persaudaraan. Inilah surga.

2. Bukan saudara namun mnunjukkan persaudaraan. Ini adalah kebahagiaan (happiness).

3. Bukan saudara dan tidak mnunjukkan persaudaraan. Ini disebut ketidak bahagiaan (unhappiness)

4. Saudara tapi tidak menunjukkan persaudaraan. Inilah neraka.

Jika ada orang yang bukan saudara dan dia tidak menunjukkan persaudaraan kepada kita, kita bisa dengan mudah menghindarinya. Kita bisa memilih komunitas lain tanpa harus bertemu dengannya.

Namun akan lebih berat bagi kita jika yang tidak mnunjukkan persaudaraan itu adalah saudara kita sendiri. 
Disinilah kita perlu memaknai setiap kondisi yang kita hadapi agar tidak mengalihkan kita dari kebahagiaan.

Kepada mereka yang tidak menunjukkan persaudaraan, kita bisa memaknainya sebagai cara Tuhan untuk menjadikan diri kita agar menjadi manusia yang lebih baik. Hilangnya rasa persaudaraan dari saudara kita tidak boleh menjadi penghalang bagi kita untuk merayakan setiap momentum dalam hidup kita.

Lantas, apa yang dibutuhkan untuk memunculkan rasa persaudaraan khususnya antara sesama saudara? Kata kunci adalah connectedness, rasa terhubung satu sama lain, rasa bahwa kita adalah satu tubuh. 
Disaat ada bagian dari tubuh kita yang sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya. Demikian pula sebaliknya, saat bagian tubuh yang sakit itu pulih, seluruh tubuh merasakan kesegaran.

Ada 2 ciri connectedness:

Kita merasa senang jika saudara kita mendapatkan kebaikan, dan kita merasa sedih saat saudara kita mendapatkan keburukan. Inilah yang dianalogikan sebagai satu tubuh.

Kita selalu bhubungan dengan saudara kita meski kita sedang tidak membutuhkannya.

Semoga bisa jadi inspirasi agar bisa MENJADI saudara yang baik dan menjaga persaudaraan.

17/02/16

Inspirasi buat Calon LEADERS..!

Suatu hari seorang Raja mendapat hadiah 2 ekor anak burung elang. 

Lalu dia berpikir, akan bagus sekali jika elang ini dilatih untuk terbang tinggi. Tentu akan lebih indah lagi. Ia memanggil pelatih burung yang tersohor di negerinya untuk melatih 2 elang ini.

Setelah beberapa bulan, pelatih burung ini melapor : Seekor elang telah terbang tinggi dan melayang² di angkasa. n a m u n yang seekor lagi tidak beranjak dari pohonnya 

Raja pun memanggil semua ahli hewan untuk memeriksa elang kesayangannya ini namun tidak ada yang berhasil "menyembuhkan" dan membuat elang ini terbang.

Berbagai usaha telah dilakukan, t e t a p i elang ini tidak kunjung bergerak dari dahannya.

Kemudian ia bertemu dengan petani yang sangat mengenal akan sifat elang dan Raja meminta bantuan petani itu.

Keesokan harinya ketika Raja mengunjungi elang ini, ia kaget melihat elang ini sudah terbang tinggi.

Dengan penuh penasaran Raja bertanya kepada petani, apa yang ia lakukan.
Petani menjawab, "Saya hanya memotong cabang pohon yang selama ini dihinggapinya ... DAHAN itu yang membuatnya NYAMAN".

Kita dilahirkan untuk sukses, kita ditakdirkan untuk terbang tinggi, nmun, ada yang memegang erat, yaitu ketakutan; tidak ada yang mau melepaskan ketakutan itu dan tidak beranjak dari posisinya.

Atau kadang kita terlalu memegang zona kenyamanan, hingga takut dan tidak mau melepaskannya.., takut gagal.., takut kecewa..

Lepaskan segala ketakutan itu, lepaskan zona kenyamanan itu, kenali diri anda dan tumbuhkan kekuatan dan rasa percaya diri anda.
Maka anda akan "terbang tinggi".

Tanpa kita sadari, ALLAH sesekali "Memotong" DAHAN KENYAMANAN kita, supaya iman kita bertumbuh dan naik ke level yang lebih tinggi.

07/02/16

Jangan Melihat Yang Kelihatan

Kisah dari negeri seberang :

Seorang biksu dengan pakaian dekil datang memohon sumbangan ke rumah seorang saudagar kaya. Saudagar kaya itu merasa sebal dengan penampilan si biksu dan mengusirnya pergi dengan kata-kata kasar.

Beberapa hari kemudian seorang biksu besar datang dengan jubah keagamaan yang mewah dan berkilauan, memohon sedekah ke saudagar kaya tersebut. Si saudagar kaya segera menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan makanan (vegetarian tentunya) mewah untuk si biksu. Lalu ia mengajak si biksu untuk menikmati makanannya.

Si biksu menanggalkan jubah keagamaannya yang mewah, melipatnya dengan rapi dan meletakkannya di atas kursi meja makan. Katanya, 'kemarin aku datang dengan pakaian usang dan anda mengusirku. Hari ini aku datang dengan pakaian mewah, dan anda menjamuku. Tentunya makanan ini bukan untukku tapi untuk jubah ini'. Setelah berkata demikian si biksu tersebut berlalu, meninggalkan si saudagar yang kaget.

Lantas biksu itu menyimpulkan : 
"Kalau ternyata bukan diriku,
melainkan pakaianku yang dihormati,
mengapa aku mesti senang...???"
"Dan kalau ternyata bukan diriku,
melainkan apa yang kupakai yang dihina ,
mengapa aku mesti sedih...??"

Demikianlah manusia ,
lebih sering menghormati yang melekat pada diri orang,seperti 
- apa yang dipakai atau ~pakaian yang dipakai atau 
- kekayaan atau 
- jabatan seseorang,

BUKAN PRIBADI keberadaan orang itu sendiri 

Maka...
Jika engkau dihormati orang,
jangan bangga diri...

15/01/16

Pernikahan

Pencerahan Oom Frans de Presbiter ...... PERNIKAHAN

Mengapa orang menikah ?
Karena mereka jatuh cinta.
Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia ?
Apakah karena jatuh cinta ?
Bukan...
Tapi karena mereka terus bangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa.
Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup...
Mengapa jatuh cinta gampang ?
Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita.
Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi.
Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap...
Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai.
Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel.
Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan ber-sama2 mencari solusi yang dapat diterima semua pihak. Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg2, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah sex.. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut.
Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka.

11/01/16

Service From The Heart

Suatu hari seorang pria tua berpakaian sederhana memasuki sebuah showroom otomotif. Salah seorang tenaga penjual bernama John berdiri dan menghampirinya, "Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Laki-laki tua itu menjawab bahwa dia membutuhkan mobil seken yang kecil, sebuah mobil yang sederhana karena dia hanya memiliki anggaran yang terbatas. John membawa orang tua tersebut ke garasi yang terletak di belakang showroom, di sana semua mobil seken dan berukuran kecil dipajang. Mobil-mobil tersebut mungkin sesuai dengan budget pria tua tadi. Pada saat berkeliling untuk memilih mobil yang cocok, orang tua tadi menjelaskan kepada John mengapa dia ingin membeli mobil. "Sebenarnya mobil yang akan saya beli adalah untuk istri saya. Selama 30 tahun lebih istri saya ingin punya mobil kecil. Mobil yang bisa dikendarai ke supermarket dan ke rumah teman-temannya. Tapi, saat itu adalah masa-masa sulit dan saya tidak mampu beli mobil.

Seiring waktu berlalu, istri saya berhenti meminta mobil," cerita pria tua itu. "Minggu lalu ia jatuh sakit. Dokter mengatakan istri saya menderita kanker dan umurnya tinggal beberapa bulan lagi. Jadi, saya memutuskan untuk menggunakan tabungan saya untuk membelikannya mobil, supaya ia setidaknya bisa menikmati beberapa bulan sisa hidupnya mengendarai mobilnya sendiri, sebelum dipanggil menghadap Tuhan," tambahnya lagi. Hati John tersentuh mendengar kisah tersebut. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari, ia juga akan menjadi suami yang baik sampai akhir hayat hidupnya. Setelah beberapa lama berkeliling, pria tua itu akhirnya menjatuhkan pilihannya pada sebuah mobil kecil berwarna hijau gelap. "Istriku bakal menyukai mobil ini. Kecil, mudah dikendalikan, memiliki semua fitur yang ia inginkan dan ini adalah warna favoritnya!" Lalu dia berkata pada John bahwa dia akan memberikan kejutan pada istrinya. "Saya akan mengajak istri saya ke sini besok dan berpura-pura melihat-lihat mobil.

31/12/15

Kisah Pak Hamid

Pak Hamid duduk termangu. Dipandanginya benda-benda yang berjajar di depannya dengan masygul. Bertahun-tahun dimilikinya dengan penuh kebanggaan. Dirawat dengan baik hingga selalu bersih dan mengkilap. Jika ada orang yang bertanya, Pak Hamid akan bercerita dengan penuh kebanggaan.

Siapa yang tidak bangga memiliki benda-benda itu? Berbagai plakat penghar gaan yang diterimanya selama 35 tahun pengabdiannya sebagai guru di daerah terpencil. Daerah terisolasi yang tidak diminati oleh guru-guru yang lain.Namun Pak Hamid ikhlas menjalaninya, walau dengan gaji yang tersendat dan minimnya fasilitas sekolah. Cinta Pak Hamid pada anak-anak kecil yang bertelanjang kaki dan rela berjalan jauh untuk mencari ilmu, mampu menutup keinginannya untuk pindah ke daerah lain yang lebih nyaman.

Kini masa itu sudah lewat. Masa pengabdiannya usai sudah pada usianya yang keenam puluh. Meskipun berat hati, Pak Hamid harus meninggalkan desa itu beserta keluarganya. Mereka tinggal di rumah peninggalan mertuanya di pinggir kota. Jauh dari anak didik yang dicintainya, jauh dari jalan tanah, sejuknya udara dan beningnya air yang selama ini menjadi nafas hidupnya.

“Hei, jualan jangan sambil melamun!” teriak pedagang kaos kaki di sebelahnya. Pak Hamid tergagap.
“Tawarkan jualanmu itu pada orang yang lewat. Kalau kamu diam saja, sampek elek ra bakalan payu!” (sampai butut gak akan laku) kata pedagang akik di sebelahnya.

“Jualanmu itu menurutku agak aneh,” ujar pedagang kaos kaki lagi. “Apa ada yang mau beli barang-barang seperti itu ? Mungkin kamu mesti berjualan di tempat barang antik. Bukan di kaki lima seperti ini”.

Pak Hamid tak menjawab. Itu pula yang sedang dipikirkannya. Siapa yang tertarik untuk membeli plakat-plakat itu? Bukanlah benda-benda itu tidak ada gunanya bagi orang lain, sekalipun sangat berarti baginya ?

“Sebenarnya kenapa sampai kau jual tanda penghargaan itu ?” tanya pedagang akik.“Saya butuh uang.”
“Apa isteri atau anakmu sedang sakit ?”

“Tidak. Anak bungsuku hendak masuk SMU. Saya butuh uang untuk membayar uang pangkalnya.”
“Kenapa tidak ngutang dulu. Siapa tahu ada yang bisa membantumu.”“Sudah. Sudah kucoba kesana-kemari, namun tak kuperoleh juga.”
“Hei, bukankah kau punya gaji...eh... pensiun maksudku.”

“Habis buat nyicil motor untuk ngojek si sulung dan buat makan sehari-hari.”

Penjual akik terdiam. Mungkin merasa maklum, sesama orang kecil yang mencoba bertahan hidup di kota dengan berjualan di kaki lima .

“Kau yakin jualanmu itu akan laku?”penjual kaos kaki bertanya lagi setelah beberapa saat. Matanya menyiratkan iba.

26/12/15

:: Tolong Ajarkan Kami tentang Kasih...::

Kisah ini terjadi di India. Istriku berkata kepadaku yang sedang baca koran, “Ayah, berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang ini untuk makan.”

Aku menaruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu, tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India = curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat benci makan curd rice ini. Sementara ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect-nya”.

Aku mengambil mangkok dan berkata:
“Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak pada ayah."

Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata:
“Boleh ayah. Akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta…” agak ragu2 sejenak…“. Akan minta sesuatu sama ayah, bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku?"

Aku menjawab : “Oh, pasti sayang”.

Sindu : “Betul ayah?"

“Yah pasti..” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan.
Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “janji” kata istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata:
“Sindu, jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”

Sindu: “"Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal, kok.”"

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada hari Minggu!

Istriku spontan berkata: “Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!”

Juga ibuku menggerutu jangan sampai hal itu terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program-program TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk : “Sindu, kenapa kamu tidak minta hal yang lain saja Nak. Kami semua akan sedih kalau melihatmu botak.”

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya: “Tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain.”

Aku coba memohon kepada Sindu:
"Tolonglah, kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami!”"

Sindu, dengan menangis, berkata:
“Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku. Kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya raja rela memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku: "Janji kita harus ditepati..."

Secara serentak istri dan ibuku berkata: "Apakah aku sudah gila?”

Aku : “Tidak, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi.”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.

Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah,

24/12/15

Jangan Menghakimi

Dalam suatu kereta ekonomi non-AC yang lumayan panas, Seorang eksekutif muda, dengan jas elegan berdiri di disana. Sesak-sesakan dengan penumpang lain.

Sesaat kemudian, ia membuka tablet Androidnya. Lebih besar tentu dibanding smartphone umumnya.

Ia memang sedang ada chat penting dengan para donatur. Chat tentang dana untuk membantu para korban kebanjiran.

Semua penumpang menoleh padanya atau meliriknya. Apa batin mereka?

Seorang nenek-nenek membatin, 'Orang muda sekarang, kaya sedikit langsung pamer. Naik Ekonomi, pamer-pameran.'

Seorang emak-emak membatin, 'Mudah-mudahan suami saya gak senorak dia. Norak di kelas Ekonomi bukan hal terpuji.'

Seorang gadis ABG membatin, 'Keren sih keren, tapi gak banget deh sama gayanya. Kenapa gak naik AC kalau mau pamer begituan?'

Seorang pengusaha membatin, 'Sepertinya dia baru kenal 'kaya'. Atau dapat warisan. andai dia merasakan jerih pahit kehidupan; barang tentu tidak akan pamer barang itu di kelas Ekonomi. Kenapa gak naik AC sih?'

Seorang pemuka agama melirik, 'Andai dia belajar ilmu agama, tentu tidak sesombong itu, pamer!'

Seorang pelajar SMA membatin, 'Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kale ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik kereta AC.. ill feel gue.'

Seorang tunawisma membatin, 'Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat kecil.'

23/12/15

Tetap Setia

"WAKTU BERLALU TUJUAN AKHIR MAKIN DEKAT"

Kalau kemarin kita bicara Waktu adalah Uang , maka hari ini kita bicara Waktu adalah Nafas .

Waktu adalah nafas yang setelah terlewat tak akan bisa kembali...

Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya. Digulung hari demi hari, bulan, dan tahun tanpa terasa.

Nafas kita terus berjalan seiring jalannya Waktu , setia menuntun kita ke pintu kematian. Sebenarnya dunialah yang makin kita jauhi dan liang kuburlah yang makin kita dekati.

Satu hari berlalu, berarti satu hari pula berkurang umur kita. Umur kita yang tersisa di hari ini sungguh tak ternilai harganya, sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diri kita.

Karena itu, jika hari berlalu tapi tiada Kebaikan dan Kebajikan yang kita lakukan maka akan Keringlah batin kita,

JANGAN tertipu dengan usia muda, karena SYARAT untuk Mati tidaklah harus Tua.

JANGAN terperdaya dengan badan sehat, karena SYARAT untuk Mati tidak pula harus Sakit.

TERUSLAH berbuat baik... berkata baik... kritisi semua yang tidak baik..

22/12/15

Piagam Ibu

Suatu hari, di sebuah rumah terlihat kesibukan penghuninya. Mereka bersama-sama mengangkat, menggeser  berbagai macam perabot rumah. Piagam dan piala ditempatkan di ruang tamu dengan menambahkan rak pajang. Sambil bernostalgia mengingat saat kemenangan, si sulung berkomentar, “Bu,  rasanya enggak komplit lho, di antara piala dan piagam ini tidak ada nama ibu. Waktu ibu muda sampai sekarang, apa ibu enggak pernah ikut pertandingan?”
“Eh, Ibu juga punya piagam, lho… Bukan hanya satu, tapi dua! Penasaran? Kalau ingin tahu piagam apa yang ibu punya, sediakan saja dua paku kosong, besok akan ibu gantung piagamnya di sana,”.

“Hadirin, sesuai janji kemarin, piagam yang ibu dapatkan sudah tergantung di tempatnya, silakan ke ruang tamu untuk melihatnya!” Mereka berhamburan ke ruang tamu ingin segera tahu, kejuaraan apa yang telah dimenangkan oleh ibu atau piagam penghargaan seperti apa yang telah dirahasiakan ibu selama ini? Pasti sangat luar biasa sampai orang serumah tidak pernah ada yang tahu!
Setiba di sana,  terpampang di tembok telah dipigura, akte kelahiran masing-masing anak. Mereka terkesima dan begitu. tersadar, si sulung segera memeluk ibunya, “Iya Bu, ini adalah piagam paling berharga di seluruh dunia. Pertanda Ibu telah memenangkan pertandingan terbesar dan terhebat karena diperjuangkan dengan taruhan nyawa. Piala dan piagam yang kami dapat, tidak sepadan dengan piagam. yang ibu punya.







INFO
KomSel





Komsel Setiap Hari Jumat Jam 20:00 WIB Tuhan Yesus Memberkati.

Semua Materi Bahan Sate diambil dari www.abbalove.org



ABBALOVE SERPONG
Ruko Jasmine Blok HA/1 No.2-6 Gading Serpong







God Bless You.

Daftar Blog Favorit